WELCOME TO MY BLOG

WELCOME TO MY BLOG

Jumat, 11 Mei 2012

SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA
Image:baddaii.jpg



A. Penjajahan Belanda di Indonesia

Sebelum mempelajari materi yang baru, adakah di antara kalian yang belum memahami materi yang lalu? Sekarang marilah kita pelajari tentang perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Untuk mengawali, perhatikan penjelasan tentang kedatangan penjajah Belanda di Indonesia. Tahun 1596 Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman, pertama kali mendarat di Banten. Tahun 1602 Belanda mendirikan kongsi dagang VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie ) di Batavia untuk memperkuat kedudukannya. VOC mempunyai hak istimewa disebut Octroi. Gubernur Jendral VOC pertama Pieter Both, kemudian digantikan J. P. Coen.
Image:Londo.jpg
VOC ingin menguasai pusat-pusat perdagangan, seperti Batavia, Banten, Selat Sunda, Makasar, Maluku, Mataram (Jawa), dan berbagai daerah strategis lain. Belanda dapat menguasai Nusantara karena politik kejam mereka yaitu politik adu domba. Belanda mengadu domba raja-raja di daerah sehingga mereka terhasut dan terjadilah perang saudara dan perebutan tahta kerajaan. Belanda membantu pemberontakan dengan meminta imbalan daerah kekuasaan dagang (monopoli perdagangan). Akhir abad ke-18 VOC bangkrut dan dibubarkan tanggal 31 Desember 1799. Indonesia diperintah oleh Kolonial Belanda dengan gubernur jendral pertama Daendels yang sangat kejam. Rakyat dipaksa kerja rodi membuat jalan sepanjang 1.000 km (dari Anyer–Panarukan), mendirikan pabrik senjata di Semarang dan Surabaya juga membangun Pelabuhan Merak. Daendels digantikan Jansens yang kemudian dikalahkan Inggris. Tahun 1816 Indonesia dikembalikan ke Belanda, dengan Van den Bosch sebagai gubernur. Ia menerapkan politik tanam paksa. Tujuannya untuk mengisi kas Belanda yang kosong.Tanam paksa menyengsarakan rakyat, selain rakyat dipaksa menanam 1/5 tanahnya dengan ketentuan Belanda, mereka juga dipaksa membayar pajak dan ganti rugi tanaman.

1. Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram (Tahun 1628 dan Tahun 1629)

Raden Mas Rangsang menggantikan Raden Ma Martapura dengan gelar Sultan Agung Senapati Ing Alogo Ngabdurrachman. Ia adalah Raja Mataram yang memakai gelar Sultan, sehingga lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Sultan Agung memerintah Mataram dari tahun 1613–1645. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Mataram mencapai kejayaan. Dalam memerintah kerajaan, ia bertujuan mempertahankan seluruh tanah Jawa dan mengusir Belanda dari Batavia.
Image:sultan agung.jpg
Pada masa pemerintahannya, Mataram menyerang ke Batavia dua kali (tahun 1628 dan tahun 1629), namun gagal. Dengan kegagalan tersebut, membuat Sultan Agung makin memperketat penjagaan daerah perbatasan yang dekat Batavia, sehingga Belanda sulit menembus Mataram. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan digantikan putranya bergelar Amangkurat I.

2. Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten (1650–1682)

Sultan Ageng Tirtayasa memerintah Banten dari tahun 1650–1692. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Banten mengalami masa kejayaan. Ia berusaha memperluas kerajaannya dan dan mengusir Belanda dari Batavia. Banten mendukung perlawanan Mataram terhadap Belanda di Batavia. Sultan Ageng Tirtayasa memajukan aktivitas perdagangan agar dapat bersaing dengan Belanda. Selain itu juga memerintahkan pasukan kerajaan Banten untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda di Batavia. Kemudian mengadakan perusakan perkebunan tebu milik Belanda di Ciangke. Menghadapi gerakan tersebut membuat Belanda kewalahan. Pada tahun 1671 Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota menjadi raja pembantu dengan gelar Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji). Sejak saat itu Sultan Ageng Tirtayasa beristirahat di Tirtayasa.

3. Sultan Hasanudin dari Makasar Sulawesi Selatan yang Mendapat

Julukan Ayam Jantan dari Timur Pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin, Kerajaan Makasar mencapai masa kejayaan. Cita-cita Sultan Hasanudin untuk menguasai jalur perdagangan Nusantara mendorong perluasan kekuasaan ke kepulauan Nusa Tenggara. Hal itu mendapat tentangan Belanda. Pertentangan tersebut sering menimbulkan peperangan. Keberanian Sultan Hasanudin dalam memimpin pasukan Kerajaan Makasar mengakibatkan kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan Hasanudin, Belanda menjulukinya dengan sebutan “Ayam Jantan dari Timur”.

4. Pattimura (Thomas Matulesi) dari Maluku

Pada tanggal 16 Mei 1817 Rakyat Maluku di bawah pimpinan Pattimura (Thomas Matulesi) mengadakan penyerbuan ke pos Belanda dan berhasil merebut benteng Duurstede. Dari Saparua perlawanan meluas ke tempat lain seperti Seram, Haruku, Larike, dan Wakasihu. Hampir seluruh Maluku melakukan perlawanan, sehingga Belanda merasa kewalahan. Pada tanggal 15 Oktober 1817, Belanda mulai mengadakan serangan besar-besaran. Pada bulan November 1817 Thomas Matulesi berhasil ditangkap.

5. Imam Bonjol dari Sumatra Barat

Rakyat Minangkabau bersatu melawan Belanda. Terjadi pada tahun 1830– 1837. Perlawanan terhadap Belanda di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol. Untuk mengatasi perlawanan rakyak Minangkabau, Belanda menerapkan siasat adu domba. Dalam menerapkan siasat ini Belanda mengirimkan pasukan dari Jawa di bawah pimpinan Sentot Prawiradirja. Ternyata Sentot beserta pasukannya membatu kaum padri. Karena itu Sentot ditangkap dan diasingkan ke Cianjur,Jawa Barat. Pada akhir tahun 1834, Belanda memusatkan pasukannya menduduki kota Bonjol. Tanggal 16 Juni 1835, pasukan Belanda menembaki Kota Bonjol dengan meriam. Dengan tembakan meriam yang sangat gencar Belanda berhasil merebut Benteng Bonjol. Akhirnya pada tanggal 25 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol menyerah. Dengan menyerahnya Tuanku Imam Bonjol berarti padamlah perlawanan rakyat Minangkabau terhadap Belanda.
Image:imam benjol.jpg

6. Diponegoro (Ontowiryo) dari Yogyakarta (1825 – 1830)

Pangeran Diponegoro dengan nama kecil Raden Mas Ontowiryo, putra sulung Sultan Hamengkubowono III, lahir pada tahun 1785. Melihat penderitaan rakyat, hatinya tergerak untuk memperjuangkannya. Perlawanan Diponegoro pemicu utamanya adalah pemasangan tiang pancang membuat jalan menuju Magelang. Pemasangannya melewati makam leluhur Diponegoro yang dilakukan tanpa izin. Karena mendapat tentangan, pada tanggal 20 Juli 1825 Belanda melakukan serangan ke Tegalrejo. Namun dalam serangan tersebut tidak berhasil menemukan Diponegoro, karena sebelumnya Diponegoro telah memindahkan markasnya di Selarong. Dalam perlawanan melawan Belanda Pangeran Diponegoro dibantu Pangeran Mangkubumi, Sentot Pawirodirjo, Pangeran Suriatmojo, dan Dipokusumo. Bantuan dari ulama pun ada, yaitu dari Kyai Mojo dan Kyai Kasan Basri
Image:pangeran di ponogoro.jpg
Untuk mematahkan perlawanan Diponegoro, Belanda melaksanakan siasat Benteng Stelsel (sistem benteng). Dengan berbagai siasat, akhirnya Belanda berhasil membujuk para pemimpin untuk menyerah. Melihat hal itu, Pangeran Diponegoro merasa terpukul. Dalam perlawanannya akhirnya Pangeran Diponegoro terbujuk untuk berunding. Dalam perundingan, beliau ditangkap dan diasingkan ke Makasar sampai akhirnya meninggal dunia pada tanggal 8 Januari 1855.

7. Pangeran Antasari dari Banjarmasin

Perlawanan rakyat Banjar dipimpin oleh Pangeran Hidayat dan Pangeran Antasari. Perlawanan tersebut terkenal dengan Perang Banjar, berlangsung dari tahun 1859–1863. Setelah Pangeran Hidayat ditangkap dan diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat perlawanan rakyat Banjar masih terus dilakukan dipimpin oleh Pangeran Antasari. Atas keberhasilan memimpin perlawanan, Pangeran Antasari diangkat sebagai pemimpin agama tertinggi dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Beliau terus mengadakan perlawanan sampai wafat tanggal 11 Oktober 1862.
Image:pangean antasari.jpg

8. Sisingamangaraja XII dari Tapanuli Sumatra Utara

Sisingamangaraja lahir di Baakara, Tapanuli pada 1849 dan menjadi raja pada tahun 1867. Saat bertahta, ia sangat menentang penjajah dan melakukan perlawanan, akibatnya ia dikejar-kejar oleh penjajah. Setelah tiga tahun dikejar Belanda, akhirnya persembunyian Sisingamangaraja diketahui dan dikepung ketat. Pada saat itu komandan pasukan Belanda meminta kembali agar ia menyerah dan menjadi Sultan Batak, namun Sisingamangaraja tetap menolak dan memilih mati daripada menyerah.

Image:2paneran.jpg

B. Pergerakan Nasional Indonesia

Pergerakan nasional adalah perjuangan yang mengikutsertakan seluruh rakyat Indonesia. Latar belakang timbulnya pergerakan nasional adalah rasa senasib dan sepenanggungan, penderitaan rakyat akibat penjajahan, rakyat yang tidak mempunyai tempat mengadu nasib, adanya golongan terpelajar yang sadar akan perjuangan, dan kemenangan Jepang melawan Rusia pada tahun 1905. Sesudah tahun 1908 perjuangan banyak ditempuh dengan jalan diplomasi. Kegagalan perjuangan sebelum tahun 1908 disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut. 1. Belum ada persatuan dan kesatuan di seluruh Nusantara. 2. Perjuangan masih bersifat kedaerahan. 3. Kalah dalam persenjataan dan teknik perang.
Image:kartini.jpg
Tokoh penting pergerakan nasional antara lain sebagai berikut. 1. R. A. Kartini lahir di Jepara 21 April 1879 Jawa Tengah. Menerbitkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang , cita-citanya ingin memajukan kaum wanita sederajat dengan pria. Ia mendapat gelar pahlawan emansipasi wanita. 2. Dewi Sartika dari Jawa Barat. Ia mendirikan sekolah Kautaman Istri. 3. dr. Sutomo, pendiri Budi Utomo pada tangal 20 Mei 1908. BU adalah organisasi pergerakan nasional pertama maka kelahirannya diabadikan sebagai hari kebangkitan nasional yaitu tanggal 20 Mei. 4. K.H. Dewantoro lahir tanggal 2 Mei di Yogyakarta dengan nama kecil R. Suwardi Suryaningrat. Jasa beliau adalah sebagai berikut. a. Pendiri Indische Partij bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusuma. Mereka bertiga dikenal dengan nama Tiga Serangkai. IP berdiri tanggal 25 Desember 1912 di Bandung dengan tujuan ingin mempersatukan Indonesia mencapai kemerdekaan. b. Pendiri Taman Siswa tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta, organisasi pendidikan dan kebangsaan. Ia mempunyai semboyan “Ing ngarso sung tulodho, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani .” Karena jasa beliau di bidang pendidikan beliau mendapat gelar Bapak Pendidikan Nasional. Dan tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. 5. Douwes Dekker adalah mantan residen Lebak, ia menulis buku Max Havelaar dengan nama samaran Multatuli. Isi buku menceritakan penderitaan rakyat selama 31 tahun sewaktu dilaksanakan tanam paksa. Buku itu menggegerkan warga Belanda, akhirnya tanam paksa dibubarkan. Douwes Dekker juga ikut mendirikan Indische Partij. Tokoh lain yang ikut dalam pergerakan nasional adalah Saman Hudi (pendiri SDI) dan Hos Cokroaminoto, K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Ir. Soekarno, dan kawan-kawan (pendiri PNI), dan Muh. Hatta (pendiri PI).
Image:MoooH Hatta.jpg

C. Peranan Sumpah Pemuda

dipimpin oleh R. Satiman Wirjosandjojo. Tahun 1918 berganti nama dengan Jong Java. Tahun 1917 Moh. Hatta mendirikan Jong Sumatranen Bond (JSB). Tahun 1918 pemuda Ambon mendirikan Jong Ambon. Setelah itu menyusul Jong Celebes, Jong Batak, dan Sekar Rukun (Sunda). Tujuan mulia Trikoro Darmo yaitu sakti, budi, dan bakti. Pada bulan Nopember 1925 organisasi itu mengadakan pertemuan di Jakarta dan sepakat untuk berkumpul kembali. Pada bulan April 1926 diadakan kongres pemuda I di Jakarta. Ketuanya adalah M. Tabrani dan Sumarto sebagai wakilnya. Sekretarisnya adalah Jamaludin Adinegoro, dan Suwarso sebagai bendaharanya. Pada tanggal 27–28 Oktober 1928 diadakan Kongres Pemuda II. Ketua : Soegondo Djojopuspito Wakil Ketua : Djoko Marsaid Sekretaris : Moh. Yamin Bendahara : Amir Syarifudin Kongres Pemuda II menghasilkan Ikrar Sumpah Pemuda yang isinya sebagai berikut. 1. Kami putra-putri Indonesia, mengakui bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. 2. Kami putra-putri Indonesia, mengakui berbangsa satu, bangsa Indonesia. 3. Kami putra-putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sebelum sumpah pemuda dibacakan dinyanyikan lagu Indonesia Raya oleh W.R. Supratman, setelah itu setiap pertemuan dimulai dinyanyikan lagu Indonesia Raya untuk menggugah semangat pemuda. Pada tanggal 22 Desember 1928 diadakan kongres organisasi wanita di Yogyakarta. Tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Untuk membantu militer Jepang dibentuk organisasi Seinendan, Fujinkai, Bogodan (pembantu polisi), Keibodan dan Heiho (pembantu prajurit). Tahun 1943 dibentuk PETA (tentara pembela tanah air) dan giguyun (tentara suka rela) yang bertugas mempertahankan wilayahnya. Untuk kepentingan perang Jepang, rakyat diperas dan dipaksa bekerja. Jepang menggerakkan pekerja paksa yaitu Romusha. Mereka dipaksa bekerja di tengah hutan, di tebing, pantai, sungai untuk membuat lapangan terbang dan kubu-kubu pertahanan serta rel kereta api. Romusha dipekerjakan di dalam dan luar negeri seperti Burma, Malaysia dan Thailand.
Image:K.H. Zaenal.jpg
Akibat penjajahan Jepang, rakyat kelaparan, kurang pangan, dan sandang. Rakyat dipaksa menanam padi sebanyak-banyaknya dan jarak untuk dijadikan pelumas mesin-mesin dan pesawat. Jepang berkuasa di Indonesia selama kurang lebih tiga setengah tahun. Beberapa tokoh pahlawan yang mengadakan perlawanan terhadap Jepang, yaitu 1. Tengku Abdul Jalil dan Tengku Abdul Hamid memimpin perlawanan di Aceh tahun 1942 dan 1944. 2. K.H. Zainal Mustafa di Singaparna Tasikmalaya Jawa Barat tahun 1944. 3. Pang Suma di Tayan Pontianak Kalimantan Barat tahun 1944. 4. L.Roemkorem di Papua tahun 1943. 5. Supriyadi di Blitar Jawa Timur tanggal 14 Februari 1945.

Beberapa hari lagi, yaitu pada tanggal 10 November 1998, bangsa Indonesia akan memperingati Hari Pahlawan. Tanggal 10 November telah kita tetapkan sebagai Hari Pahlawan. Itu adalah untuk memperingati perjuangan yang heroik rakyat Indonesia melawan penjajah yang setelah Perang Dunia Kedua hendak menancapkan kembali kekuasaannya di bumi Ibu Pertiwi dan hendak meniadakan kemerdekaan bangsa Indonesia yang pada tanggal 17 Agustus 1945 diproklamasikan.
Pada tanggal 10 November 1945 para pemuda Surabaya mengadakan perlawanan terhadap pasukan Sekutu yang hendak menguasai kota Surabaya untuk diserahkan kepada Belanda yang telah datang kembali ke Indonesia dengan mendompleng pasukan Sekutu. Pemuda dan rakyat Surabaya tidak mau dijajah kembali dan dihilangkan kemerdekaannya yang baru saja direbut. Perlawanan gigih diberikan dengan disertai pengorbanan jiwa, raga, harta dan benda. Baru setelah Presiden Soekarno mencapai persetujuan dengan pimpinan Sekutu, maka perlawanan yang hebat itu berhenti. Karena kuatnya perlawanan rakyat dan pemuda Indonesia dalam pertempuran di Surabaya, maka peristiwa itu masuk dalam pencatatan sejarah dunia. Apalagi karena dalam perlawanan itu komandan pasukan Inggeris, Brigadier Mallaby, jatuh sebagai salah satu korban.
Perlawanan arek-arek Surabaya pada tanggal 10 November 1945 itu makin menggelorakan perlawanan rakyat di tempat-tempat lain di Indonesia yang juga kedatangan pasukan Belanda bersama Sekutu. Mungkin sebelum itu rakyat di tempat lain sudah mengadakan perlawanan terhadap Belanda, seperti yang terjadi di sekitar Jakarta. Akan tetapi pertempuran Surabaya yang hebat itu makin memperkuat semangat rakyat Indonesia di mana-mana untuk juga membuktikan semangat kepahlawanan dalam membela kemerdekaan Negara dan Bangsa.
Apakah sebetulnya kepahlawanan itu dan bagaimana sifat orang yang dapat dinamakan pahlawan. Kepahlawanan adalah satu perbuatan yang dilakukan seorang dalam mengabdikan diri guna kepentingan yang lebih luas dari pada kepentingan dirinya sendiri. Baik itu kepentingan negara, bangsa, masyarakat atau umat manusia. Semangat pengabdian yang kuat itu biasanya timbul karena ada dorongan hati nurani untuk membela kebenaran dan keadilan. Dalam pengabdian itu dilakukan perbuatan yang tidak terbatas pada ruang lingkup kewajiban normal yang dihadapi orang bersangkutan atau dalam bahasa Inggeris dikatakan bahwa kepahlawanan adalah satu perbuatan beyond the call of duty. Kalau perbuatan itu sekedar menjalankan kewajiban, maka itu masih kurang kuat untuk dinamakan kepahlawanan. Dan perbuatan yang melampaui ruang lingkup kewajiban itu disertai kesediaan memberikan pengorbanan jiwa dan raga serta harta dan benda yang ada pada orang itu secara ikhlas, demi kebenaran dan keadilan serta kepentingan yang lebih luas dari pada kepentingan dirinya sendiri. Kepahlawanan tidak jarang mengakibatkan gugurnya orang yang melakukan perbuatan itu dan perbuatan demikian adalah kepahlawanan yang betul-betul penuh.
Orang yang melakukan perbuatan kepahlawanan itu dinamakan pahlawan. Jadi orang yang sekedar menjalankan kewajiban yang memang harus dihadapi kurang memenuhi syarat untuk dinamakan pahlawan. Baru kalau dalam menjalankan kewajiban itu ia melakukan perbuatan yang di luar keharusan yang perlu dipenuhi, dan itu disertai kesediaan berkorban yang cukup tinggi dan penuh keikhlasan, maka orang itu patut digolongkan pahlawan. Apalagi kalau perbuatan itu menimbulkan kesengsaraan pada orang itu, apalagi kematian, maka orang itu benar-benar tergolong pahlawan.
Pangeran Diponegoro yang sudah tidak sudi lagi melihat kekuasaan penjajah Belanda di Jawa, bangkit dan bertekad mengadakan perlawanan. Hati nurani beliau mengatakan bahwa kekuasaan penjajah melanggar keadilan dan karena itu harus dilawan. Sebenarnya sebagai seorang pangeran yang mempunyai kewajiban di kraton Yogyakarta Pangeran Diponegoro tidak perlu bangkit dan mengadakan perlawanan fisik terhadap Belanda. Akan tetapi beliau menganggap bahwa menjadi keharusan bagi beliau untuk tidak sekedar menjadi anggota kerabat Sultan Yogya. Melainkan harus membuktikan kesediaannya untuk mengusir Belanda dari pulau Jawa. Perbuatan itu membuat beliau seorang pahlawan, apalagi ketika dalam perlawanan itu beliau harus mengorbankan banyak hal demi kepentingan rakyat banyak yang hidup sengsara di bawah telapak penjajahan Belanda. Dan akhirnya malahan secara licik dapat ditawan oleh Belanda serta diasingkan dari pulau Jawa yang merupakan tumpah darah beliau. Kemudian harus wafat dalam pengasingan jauh dari tempat asal beliau.
Soekarno yang mahasiswa brilyan di Sekolah Tinggi Teknik Bandung ( sekarang menjadi ITB) sebenarnya tidak mempunyai kewajiban untuk memelopori dan memimpin pergerakan kebangsaan untuk menjadikan rakyat Indonesia merdeka. Dengan hasil studi yang bermutu Bung Karno dapat mengabdikan diri sebagai seorang insinyur yang pandai. Dan dengan jalan demikian dapat memperoleh kedudukan dalam masyarakat serta membangun kesejahteraan yang baik bagi dirinya dan keluarganya, sebagaimana dilakukan oleh cukup banyak lulusan sekolah tinggi di zaman penjajahan. Akan tetapi hati nurani Bung Karno mengatakan kepada dirinya bahwa bangsanya mengalami ketidakadilan karena dijajah Belanda. Sebab itu Bung Karno tidak mau hanya menjadi orang seperti itu ketika rakyat Indonesia hidup sengsara dalam penjajahan. Maka beliau bangkit dan membentuk pergerakan nasional, yaitu Partai Nasional Indonesia, yang menggerakkan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaan. Akibatnya Bung Karno ditahan oleh pemerintah penjajahan, dibuang ke tempat pengasingan jauh dari masyarakat yang menjadi basis pergerakan yang dipimpinnya. Dan dengan sendirinya mengalami kondisi kehidupan yang jauh dari keadaan andai kata beliau sekedar menjadi insinyur yang pandai. Maka Bung Karno termasuk pahlawan kemerdekaan yang patut menjadi tauladan.
Hal serupa kita lihat pada Bung Hatta setelah pulang dari studinya di Belanda. Andai kata Bung Hatta sekedar menjalankan kewajiban normal seorang pemuda dan intelektual Indonesia, maka Bung Hatta tak perlu memimpin pergerakan kebangsaan. Akan tetapi hati nurani beliau mendorong untuk tidak sekedar menjadi seorang intelektual, melainkan juga memperjuangkan perbaikan nasib berjuta rakyat Indonesia. Akibatnya Bung Hatta dengan penuh kesadaran memberikan pengorbanan tidak sedikit, termasuk ditahan dan dibuang jauh dari sanak keluarga serta kawan-kawan yang beliau ajak bergerak mencapai kemerdekaan bangsa dan negara.
Perjuangan rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan penuh dengan kepahlawanan. Tanpa itu tidak mungkin kemerdekaan dapat diproklamasikan, kemudian dibela dan ditegakkan. Sebab pihak penjajah tidak mau melepaskan kekuasaannya begitu saja. Dan penjajah mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak, baik yang ada di luar negeri maupun di dalam negeri dari orang-orang Indonesia yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri belaka. Akan tetapi cukup banyak rakyat Indonesia tergerak hati nuraninya untuk melawan penjajah guna membela kebenaran dan keadilan, sekalipun tidak jelas atau pasti kesudahan perlawanan itu bagi dirinya dan keluarganya. Karena itu terpeliharalah Republik Indonesia yang merdeka.
Maka boleh dikatakan bahwa berdirinya dan tetap tegaknya Republik Indonesia adalah karena faktor kepahlawanan itu. Makam-makam pahlawan tersebar luas di seluruh wilayah Tanah Air Indonesia. Ada yang melakukan kepahlawanan ketika penjajahan masih amat kuat di bumi Indonesia, seperti Haji Oemar Said Tjokroaminoto dan Husni Thamrin. Pahlawan-pahlawan itu telah memberikan sumbangan berharga bagi persiapan kemerdekaan. Dan ada pahlawan-pahlawan dalam perjuangan membentuk serta menegakkan kemerdekaan negara dan bangsa. Tidak salah kalau dikatakan bahwa kemerdekaan Indonesia dicapai melalui kepahlawanan yang tidak sedikit. Ada kepahlawanan yang dilakukan oleh para pejuang bersenjata dalam pertempuran terhadap penjajah dan pihak-pihak yang tidak menghendaki Indonesia merdeka. Ada pula kepahlawanan yang dilakukan oleh rakyat yang dengan penuh semangat melakukan aneka ragam perlawanan terhadap musuh-musuh Indonesia. Oleh sebab itu hendaknya generasi penerus jangan menganggap kemerdekaan negara dan bangsa itu satu hal yang lumrah belaka, satu perkara yang dapat taken for granted. Karena itu harus selalu ada dorongan untuk terus membela kemerdekaan itu serta membuatnya lebih indah lagi dengan menciptakan kondisi negara dan bangsa yang selalu lebih baik, lebih maju dan sejahtera dari pada sebelumnya.
Mengisi kemerdekaan negara dan bangsa
Akan tetapi negara tidak cukup hanya ditegakkan dan dibela, melainkan harus pula dijadikan satu wahana untuk membawa kemajuan serta kesejahteraan bangsa secara keseluruhan. Oleh sebab itu kemerdekaan yang telah dicapai harus diisi dengan membuat negara itu memiliki berbagai kemampuan yang mendatangkan kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Makin banyak kemajuan dan kesejahteraan yang didatangkan untuk rakyat, semakin besar manfaat yang diberikan negara bagi rakyat.
Membangun negara dan bangsa itu memerlukan pekerjaan yang tidak sedikit dan tidak mudah. Berbagai kemampuan baru harus diciptakan dan dibangun. Seperti pembangunan jalan-jalan, waduk-waduk dan saluran pengairan untuk mengairi tanah pertanian, pelabuhan, gedung sekolah, rumah sakit dan banyak lagi. Tidak jarang keberhasilan pekerjaan untuk pembangunan itu memerlukan pengorbanan dari mereka yang mengerjakannya. Apalagi kalau harus mengejar waktu dengan tetap menjaga mutu hasil pekerjaan. Maka dari mereka yang melakukan pekerjaan itu diharapkan adanya semangat pengorbanan yang tidak sedikit. Sebab itu pembangunan juga dapat menimbulkan pahlawan-pahlawan, yaitu pahlawan pembangunan. Mungkin tidak terdapat ancaman terhadap jiwa bagi pahlawan pembangunan. Meskipun begitu, kalau pekerja pembangunan melakukan pekerjaannya dengan penuh dedikasi tanpa menghiraukan kepentingan pribadinya, maka tetaplah ia dapat dinilai sebagai pahlawan.
Juga mereka yang melakukan pekerjaan pembangunan tanpa pamrih, seperti para guru yang bekerja di desa-desa jauh dari keramaian kota yang kita lihat di tengah-tengah Kalimantan atau Irian, dapat kita nilai sebagai pahlawan pembangunan apabila mereka melakukan pekerjaannya dengan baik sekali. Demikian pula para peneliti ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama berjam-jam bekerja penuh dedikasi di tempat penelitian dan mungkin menghadapi bahaya kematian (kalau umpamanya sedang meneliti penyakit menular atau melakukan penelitian kimia dengan gas racun atau alat peledak). Mereka pun dapat dinamakan pahlawan pembangunan karena tanpa banyak menghiraukan kepentingan pribadinya mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat banyak.
Pembangunan negara dan bangsa yang mencapai sukses besar serta dilakukan dengan tempo tinggi memerlukan faktor kepahlawanan yang tidak kalah artinya dari kepahlawanan di masa perjuangan kemerdekaan. Oleh sebab itu diharapkan para pemuda di seluruh wilayah Tanah Air Indonesia tergerak hati nuraninya untuk menunjukkan perbuatan kepahlawanan di bidang-bidang pekerjaan yang mereka geluti. Tidak kalah dari kepahlawanan yang sudah terjadi dalam masa perang melawan penjajah. Ketika kita sekarang menghadapi Krisis Moneter yang kemudian menimbulkan berbagai krisis lainnya sikap kepahlawanan demikian makin terasa keperluannya bagi bangsa Indonesia. Sebaliknya kalau para pemuda hanya sekedar menjalankan pekerjaan mereka sebagai bagian dari kewajiban, maka sukar kita peroleh hasil pembangunan negara dan bangsa yang cukup tinggi dalam waktu singkat.
Seperti dalam perjuangan kemerdekaan hendaknya para pemimpin memberikan tauladan dalam melakukan perbuatan kepahlawanan itu. Tauladan demikian akan dapat menggerakkan semangat perjuangan dari mereka yang dipimpin. Selain itu diharapkan pula agar di antara para pemuda cukup banyak yang terdorong melakukan kepahlawanan sekalipun tidak ada tauladan dari atas.
Sayang sekali bahwa di masa Orde Lama yang berlangsung dari tahun 1959 hingga 1965 tidak banyak dilakukan usaha pembangunan untuk memberikan isi kepada kemerdekaan negara dan bangsa. Waktu itu bangsa Indonesia terlalu dilibatkan dalam berbagai pertentangan politik dalam negeri. Kesejahteraan rakyat bukannya bertambah baik, melainkan makin menurun. Setelah tahun 1965 mula-mula ada niat baik dari Orde Baru untuk secara konsekuen melaksanakan UUD 1945 dan Pancasila serta melakukan pengisian kemerdekaan. Karena itu sejak tahun 1969 dimulai pembangunan nasional. Memang kemudian mulai tampak perbuatan kepahlawanan yang ditunjukkan oleh sementara orang yang penuh dedikasi terhadap pekerjaannya. Namun sayang sekali bahwa di samping itu mulai berkembang sikap hidup yang amat merugikan negara dan bangsa. Sifat ketidakjujuran mulai timbul dan malahan ditauladani oleh kalangan atas. Ketika sementara orang melakukan pekerjaan pembangunan dengan penuh semangat dan bahkan pengorbanan, terjadi perbuatan yang tercela oleh pihak lain berupa pemusatan kekuasaan dan pengumpulan kekayaan pribadi melalui penyalahgunaan wewenang yang makin lama makin parah. Karena akhirnya masyarakat lebih didominasi oleh pihak yang disebut terakhir, maka sukar terwujud kepahlawanan dalam pembangunan. Malahan orang yang berusaha menunjukkan sifat-sifat yang bersifat jujur serta penuh dedikasi dan pengorbanan untuk negara dan bangsa dianggap sebagai menentang arus. Mungkin banyak orang bicara tentang pahlawan pembangunan, tetapi itu hanya omong kosong belaka yang menunjukkan kemunafikan yang tinggi. Keadaan demikian yang bertentangan dengan kepentingan rakyat menimbulkan keadaan bangsa yang amat buruk yang akhirnya menyulut gerakan para mahasiswa untuk memelopori perjuangan reformasi. Hati nurani para mahasiswa tidak mau menerima berlanjutnya berbagai ketidakadilan dan pemutarbalikan kebenaran.
Dengan terjadinya Reformasi di segala bidang, khususnya di bidang hukum, politik dan ekonomi, diusahakan agar masyarakat Indonesia kembali kepada jalannya yang benar dalam mencapai tujuannya. Dalam Reformasi itu sudah terjadi pengorbanan ketika para mahasiswa melakukan unjuk rasa yang mendapat tembakan sehingga jatuh korban, seperti yang terjadi dalam Peristiwa Trisakti. Reformasi mengusahakan kembalinya bangsa Indonesia melakukan pembangunan negara dan bangsa yang mendatangkan kemajuan dan kesejahteraan rakyat banyak. Unjukrasa dan aneka ragam usaha yang lebih bersifat politik hendaknya tidak dilihat sebagai tujuan melainkan sebagai usaha untuk menciptakan kondisi bangsa yang lebih kondusif untuk mengerjakan pembangunan secara intensif dan bermutu. Semua pihak yang cinta Tanah Air dan Bangsa berkepentingan agar Reformasi dapat mencapai tujuannya dan pembangunan nasional terlaksana sebaik-baiknya.
Kepahlawanan di masa depan
Indonesia menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Abad ke 21 atau Millenium ke 3 yang dua tahun dari sekarang diperkirakan membawa berbagai tantangan dan bahkan mungkin ancaman bagi negara dan bangsa Indonesia. Umat manusia dan dunia telah masuk dalam era globalisasi yang mengharuskan setiap bangsa pandai bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain, tetapi di pihak lain juga harus kuat melakukan persaingan dengan mereka. Bangsa yang mengabaikan kenyataan itu harus membayar mahal bagi kelalaiannya tersebut. Sudah barang tentu ini juga berlaku bagi bangsa Indonesia.
Dalam kondisi seperti itu bangsa Indonesia harus mampu melakukan perjuangan yang kuat di segala aspek kehidupan. Sudah jelas bahwa ekonomi merupakan faktor amat penting dalam persaingan internasional. Akan tetapi ekonomi memerlukan faktor pendukung yang tidak sedikit untuk dapat bersaing dengan efektif. Tidak mungkin ekonomi nasional menjadi kuat kalau tidak dukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi. Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dikembangkan pula berbagai aspek produksi. Produksi industri manufaktur harus meningkat, demikian pula produksi pertambangan, pertanian, perikanan, kehutanan. Juga perlu dimajukan sektor jasa untuk membuat ekonomi nasional makin kuat. Jasa komunikasi dan angkutan, perbankan dan keuangan pada umumnya, perdagangan, dan bidang jasa lainnya harus berkembang maju kalau ekonomi ingin menjadi kuat. Sebab itu diperlukan kepahlawanan di semua unsur ini agar bangsa Indonesia makin maju dan sejahtera. Kepahlawanan di sini akan menghasilkan keunggulan bangsa dalam berbagai bidang yang bersangkutan dengan kekuatan ekonomi itu.
Namun itu semua sangat tergantung dari mutu manusia Indonesia. Ketika kita mengakhiri masa Orde Baru nampak sekali kelemahan-kelemahan yang masih ada pada manusia Indonesia pada umumnya. Kelemahan itu yang mengakibatkan kondisi bangsa yang penuh keburukan seperti luasnya korupsi dan berbagai penyalahgunaan wewenang. Pertama adalah kelemahan berupa sifat yang kurang konsisten mengimplementasikan berbagai konsep, teori dan kebenaran lainnya yang sebenarnya tinggi mutunya. Yang paling nampak adalah kurang adanya realisasi dari nilai-nilai Panca Sila agar menjadi kenyataan yang hidup (living reality) dalam kehidupan bangsa. Padahal sejak permulaan kemerdekaan Panca Sila sudah kita terima dan akui sebagai dasar negara Republik Indonesia dan sekali gus menjadi ideologi bangsa. Sebaliknya malahan Panca Sila didiskreditkan dalam dunia internasional dan nasional ketika digunakan sebagai label yang tidak cocok. Seperti dalam Orde Baru sistem politiknya dinamakan demokrasi Panca Sila, padahal sama sekali tidak ada demokrasi dalam sistem politik itu. Kedua adalah kelemahan berupa sifat kurang jujur yang amat luas dalam kehidupan bangsa, terutama di masa Orde Baru. Hal ini amat merugikan seluruh kehidupan bangsa. Ketiga adalah kelemahan untuk kurang sekali menghargai disiplin dan pengendalian diri. Itu berakibat luas, antara lain kurang tegaknya kekuasaan hukum. Selama kelemahan-kelemahan ini masih kuat melekat pada manusia Indonesia, maka tidak mungkin ia bermutu tinggi. Oleh sebab itu diperlukan pendidikan nasional untuk menimbulkan wujud baru dari manusia Indonesia. Tidak saja pendidikan nasional harus menghilangkan sifat-sifat yang lemah, tetapi juga harus menimbulkan kemampuan-kemampuan baru untuk dapat menjalankan perjuangan yang efektif dan bermutu tinggi dalam dunia yang diliputi globalisasi sekarang dan di masa depan.
Pendidikan menghadapi berbagai tantangan, baik yang bersifat pendanaan, faktor materiil, maupun faktor lainnya. Sebab itu pelaksanaan pendidikan nasional yang bermutu merupakan satu perjuangan tersendiri yang memerlukan pahlawan-pahlawannya. Seperti pekerjaan guru, terutama mereka yang harus melakukan pekerjaannya di tempat-tempat terpencil jauh dari keramaian masyarakat. Hal ini masih akan berlangsung cukup lama meskipun tentu harus kita usahakan agar secepat mungkin kendala-kendala dapat diatasi. Seperti perbaikan penghasilan dan status sosial guru yang masih harus sangat diperbaiki. Tanpa semangat kepahlawanan sukar kita harapkan adanya perbaikan dalam pelaksanaan pendidikan nasional.
Akan tetapi jangan kita mengira bahwa di masa depan tidak ada tantangan atau ancaman yang bersifat fisik terhadap bangsa kita. Meskipun selalu kita usahakan agar bangsa lain menyadari bahwa melakukan gangguan terhadap kedaulatan bangsa Indonesia akan lebih merugikan ketimbang menguntungkannya, namun tidak dapat dipastikan bahwa bangsa lain tidak mengusahakan kepentingannya dengan mengganggu dan bahkan mengancam bangsa Indonesia. Yang sudah amat jelas adalah ketika bangsa lain menghabiskan kekayaan perikanan yang terdapat di wilayah lautan yang termasuk kedaulatan Republik Indonesia. Hal ini harus selalu memperoleh penjagaan oleh angkatan bersenjata kita. Selain itu juga tidak tertutup kemungkinan terjadinya gangguan terhadap berbagai pusat produksi kita untuk mengurangi daya saing kita secara internasional. Oleh sebab itu juga masih diperlukan semangat kepahlawanan dalam menjaga kedaulatan Republik Indonesia. Tetap diperlukan kesediaan berkorban dan menghasilkan pekerjaan bermutu tanpa banyak pamrih. Apalagi ketika negara masih belum cukup besar kemampuan keuangannya untuk menyediakan sistem senjata yang paling baik dan bahkan penghasilan anggota angkatan bersenjata masih tergolong minim sekali.
Maka jelas sekali bahwa semangat kepahlawanan terus relevan dan bahkan penting untuk kehidupan bangsa serta pencapaian tujuan nasional, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Panca Sila. Oleh sebab itu, semoga seluruh bangsa kita selalu menyadari betapa pentingnya pemupukan dan pemeliharaan semangat kepahlawanan itu. Marilah kita lanjutkan perjuangan para Pahlawan Bangsa yang telah mendahului kita dengan membuktikan sikap dan perbuatan yang tertuju kepada kehormatan, kemajuan dan kesejahteraan Negara dan Bangsa Indonesia.

Perang Dunia I

*Latar Belakang PD I

 - Persaingan daerah pemasaran dan sumber bahan baku 
        - muncul persekutuan antarnegara Eropa: 
  ~Tripple Entente[Perancis, Inggris, Russia] 
  `Tripple Alliance[Jerman, Italia, Turki] 
 - Terbunuhnya Pangeran Franz Ferdinand oleh seorang nasionalis Serbia 

* Dalam PD I, Jerman mengalami kekalahan dan harus menandatangani perjanjian Versailes,  
  28 Juni 1919. 
  Akibat: dipersempitnya wilayah pihak Sentral [Jerman, Austria, Hongaria, Turki, Bulgaria]

*Tokoh-tokoh PD I

Tokoh yang menandatangani perjanjian Versailes: 
 - Woodrow Wilson [AS]-->mengajukan 14 pasal perdamaian [Wilson's Fourteen Points] 
 - Clemencau [Prc] 
 - Loyd George [UK] 
 
* Akibat perang:

 - Lahir negara-negara baru 
 - muncul faham diktatorisme, fasisme, komunisme. 
 - dibentuk LBB(sekarang PBB atau United Nation) 
 

Perang Dunia II

*Latar Belakang PD II:

 - Benito Mussolini di Italia mempelopori gerakan fasvio de combatimento, 
   dengan cita-cita membentuk Italia Raya 
 - Adolf Hitler, Jerman. Membentuk NAZI 
 - Tenno Meiji, Jepang. Fasis Militer. 
 
*Jalannya perang:

 - 1937, Italia menduduki Abessynia dan Jerman menyerang Polandia, 1 Sept 1939. 
 - Desember 1941, Jepang membom Pearl Harbour. 
 - Prc, UK membantu Polandia menghadapi Jerman. 
 - AS terlibat menghadapi aliansi Jerman, Italia, Jepang, setelah Pearl Harbour di bom 

*Akhir Perang:
 
 - Sekutu mendaratkan pasukan di PAntai Normandia, 6 Juni 1944 
 - Jerman menyerah pada Sekutu, Mei 1955 
 - Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh AS. 
 - 14 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu 
 
*Tanggal 17 Juli-2 Agustus 1945-->Konfrensi Postdam, utk mengakhiri perang:

Isi:

 1. Jerman dibagi jadi Jerman Barat dan Jerman Timur 
 2. Jerman harus membayar pampasan perang 
  3. Angkatan perang Jerman dikurangi 
 4. Partai NAZI dihapus 
 5. Penjahat perang akan dihukum 
 
* 8 September 1951-->Perjanjian San Francisco

Isi:

 1. Jepang diperintah oleh tentara pendudukan AS 
 2. Jepang membayar pampasan perang 
 3. Daerah yang dikuasai Jepang dikembalikan ke pemiliknya 
 4. Penjahat perang akan dihukum 
 

Perlawanan Rakyat Indonesia

* Kedatangan Spanyol ke Maluku dianggap melanggar hak monopoli Portugis,maka timbul persaingan.
  Portugis diijinkan membuat benteng di Ternate : benteng Sao Paulo.
  Spanyol diterima degan baik di Tidore.
  Persaingan Portugis-Ternate dengan Spanyol-Ternate menimbulkan perang. 
  Dimenangkan oleh Portugis-Ternate. 

  Persaingan selanjutnya diselesaikan dengan :
  Perjanjian Saragosa (1529) : 
   Maluku menjadi wilayah perdagangan Portugis dan Filipina menjadi 
                        wilayah perdagangan Spanyol

* Perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis

  - Perlawanan Ternate,Tidore,Bacan terhadap Portugis.
    Ternate,Tidore dan Bacan kalah karena Portugis dibantu Malaka.
  - Perlawanan rakyat Maluku di bawah Sultan Hairun dari Ternate. Sultan Hairun diundang ke 
    benteng Portugis kemudian dibunuh.
  - Perlawanan rakyat Maluku di bawah Sultan Baabullah. Benteng Sao Paulo berhasil direbut. 
    Portugis tersingkir dari Ternate.



* VOC terbentuk dan menjadikan Ambon sebagai pusat kegiatan

* Jayakarta direbut Belanda dari P.Wijayakrama. Pusat VOC dipindah ke Jayakarta. 
  Jayakarta diganti nama menjadi Batavia



*Perlawanan rakyat Maluku terhadap VOC

  -  Dipimpin oleh Siadi,lalu ditaklukan Belanda
  -  Sultan Ternate dan Tidore dipaksa mengadakan perjanjian
  -  Sultan Ternate dan Tidore menjadi pegawai Belanda dengan gaji 12.000 ringgit
  -  Rakyat Maluku tidak boleh menananm cengkih dan pala

*Perlawanan Banten terhadap Belanda

  -  Terjadi perselisihan antara Sultan Haji dan Sultan Ageng Tirtayasa mengenai pengganti raja
     Sultan Haji bersengkongkol dengan Belanda dan mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa.

     Tahun 1684,Sultan Haji menandatangani perjanjian dengan VOC.

     Isi : VOC berhak memonopoli dan mengatur perdagangan di Banten.
           Pedagang asing tidak boleh masuk selain Belanda
           Banten harus membayar biaya perang dan mengijinkan VOC membuat benteng.

*Perlawanan Mataram terhadap Belanda 

1)       Puncak kejayaan dibawah Sultan Agung

2)       Perluasan ke Barat terhalang kekuasaan Belanda di Batavia

3)       Mataram menyerang Belanda melalui darat dan laut tetapi gagal

4)       Pasukan dibawah Tumenggung Baurekso membuat benteng dari bambu Marunda, Cilincing.
         a. VOC membakar kampung disekitarnya supaya mudah mengawasi gerakan mereka.
         b. Pasukan Mataram menggali parit ke benteng dan memanjat dinding benteng,tapi 
            mereka gagal.
         c. VOC menyerang balas sehingga Tumenggung Baurekso dan pasukannya gugur.

5)       Tumenggung Suro Agul-Agul,Kiai Dipati Madingo,Kiai Dipati Upasonto datang membantu.

6)       Untuk mengalahkan VOC,tentara Mataram membendung kali Ciliwung. Wabah penyakit 
         berjangkit di benteng VOC. Tapi tentara Mataram juga terkena akibatnya sehingga kekurangan
         makan dan terkena malaria.

7)       Dalam serangan ke dua Mataram menyiapkan logistik. Menempatkan lumbung di Tegal dan
         Cirebon. Belanda mengetahui lalu membakar lumbung itu.

8)       Akhirnya Benteng Hollandia berhasil direbut,tapi serangan ke Bommelin gagal. 

9)       Dalam pengepungan kota Mataram,J.P.Coen meninggal karena kolera.

10)      Mataram gagal merebut Batavia karena kurang logistik.

11)      Amangkurat I dan II adalah Sulata Mataram yang mengijinkan Belanda berdagang di semua
         bandar Mataram. Bandar Semarang dan Priangan diberikan pada Belanda.

12)      Timbul pemberontakan Trunojoyo. Trunojoyo hampir menguasai seluruh Jawa Tengah dan
         Jawa Timur dengan bantuan orang-orang Makasar setelah Perjanjian Bongaya (1667).

13)      Dengan campur tangan Belanda,Trunojoyo berhasil didkalahkan di Selangkung,Kediri.

14)      Amangkurat II dibunuh.

15)      Pemberontakan Untung Suropati berawal di Jabar. Membunuh Kapten Tach.

16)      Amangkurat III dan Sunan Mas tidak diakui kekuasaannya oleh Belanda karena bergabung
         dengan Untung Suropati.

17)      Belanda mengangkat Pangeran Puger jadi Raja Mataram.

18)      Untung Suropati kalah,wafat di Bangil.

19)      Sunan Mas kalah dan dibuang ke Srilanka.

20)      Ketika Pakubuwono III memerintah terjadi pembunuhan massal di Batavia terhadap orang-
         orang Cina. Orang Cina membalas dengan membunuh orang Eropa.

21)      Dalam keadaan kacau Pakubuwowno III membantu Cina emnyerang benteng Belanda di
         Kartasura.

22)      Karena takut serangan balasan,Pakubuwono III kembali memihak Belanda. Pantai Jawa Tengah
         dan Jawa Timur diserahkan. Ibu kota Mataram dipindahkan ke Surakarta.

23)      Mas Said (kemenakan Pakubuwono II) dan Mangkubumi (saudara Sultan) menyerang Belanda.

24)      Sebelum menginggal Pakubuwono II menitipkan Mataram pada Belanda. Pakubuwono III
         raja yang takluk.

25)      Perlawanan Mangkubumi berakhir dengan perjanjian Giyanti 1755.
         Isi : Mataram sebelah Timur : Pakubuwono III, ibu kota Surakarta   
               Mataran sebelah Barat : Mangkubumi, ibu kota Yogyakarta

26)    Akhirnya Mas Said berdamai dengan Belanda. Diadakan perjanjian Salatiga (1757). Mas Said , 
       Mangkunegaran I memperoleh  sebagian daerah Surakarta yang direbut dari Mangkunegaran.

27)    Mataram yang dibangun Sultan Agung akhirnya terpecah-pecah.


* Perlawanan rakyat Malaka

                -  Perlawanan yang terkenal dibawah Katir (oarang Jawa). Ia berusaha melakukan 
                   sabotase ekonomi terhadap Portugis dengan cara menahan masuknya beras ke 
                   Malaka. Karena selalu diburu Belanda,ia meminta bantuan Demak. 
                   Penyerangan Demak di bawah Dipati Unus gagal.

* Perlawanan rakyat Aceh

                -  Masa kejayaan di bawah : S. Iskandar Muda. Ia menyerang Portugis di Malaka 
     tapi kalah.
                -  Untuk meningkatkan perdagangan dan mendapat dana,Aceh mengijinkan kapal-kapal 
                   Belanda memasuki bandar-bandar Aceh.


* Portugis dan Belanda bersaing untuk menguasai Selat malaka.

* Kerajaan Nusantara di sekitas Selat Malaka ikut bersaing.

* Johor memihak Belanda. Aceh memihak Portugis. Aceh-Portugis kalah. Malaka direbut Belanda.


* Perlawanan rakyat Banjar 

                -  Belanda menuntut hak monopoli lada. Raja Banjar setuju tapi para bangsawan 
                   tidak setuju. Terjadi kerusuhan yang menyebabkan orang Belanda terbunuh.
                -  Melalui jalur perdagangan Belanda mencampuri pemerintahan,termasuk pemilihan
                   raja.
                -  Monopoli perdagangan sulit dicapai karena pedagang Makasar dan Cina mampu 
                   membeli lada dengan harga tinggi.

* Perlawanan rakyat Gowa-tallo

                -  Bandar Somba opu : bandar transit yang menghubungkan daerah Maluku Timur dan 
                   Indonesia bagian Barat.
                -  Belanda mengajak Gowa-Tallo melawan Banda dan menghentikan perdagangan beras 
                   dengan Portugis. Usul ZBelanda ditolak. Belanda membalas dengan menyerang 
                   kapal-kapal Gowa.
                -  Tahun 1634 Belanda memblokade bandar Sombaopu. Tapi gagal sehingga Belanda 
                   berdamai dengan Gowa-Tallo.
                -  Belanda merampas kapal Gowa yang mengangkut cendana. Terjadi pertempuran dan 
                   Gowa kalah sehingga Gowa mengakui Monopoli Belanda di Maluku.
                -  Terjadi perselisihan antara Aru Palaka dengan S. Hassanuddin,Belanda 
                   memihak Aru Palaka.
                -  Perang terbesar terjadi di Buton dan Makasar. Antara S. Hassanuddin dengan 
                   Cornelis Spellman dibantu Aru Palaka. S. Hassanuddin kalah.
                -  Terjadi perjanjian Bungaya (18 November 1667).
                   Isi : - Kerajaan Gowa melepaskan Bone dan Sumbawa
                         - Kapal asing tidak boleh mesuk ke Gowa
                         - Kapal Gowa hanya boleh berlayar dengan seijin Belanda
                         - Biaya perang Kompeni dibantu oleh Gowa -Tallo

* Perlawanan Pattimura

                -  Belanda berusaha menguasai Maluku.  Benteng Duurstede direbut.
                -  Belanda mengangkat Resident Van den Burg dan mendirikan benteng Duurstede. 
                   Thomas Matualessy,Anthony Rhebok,Lucas Latumahina, Said Parinrah,Ulupaha dan 
                   Paulus Tiahahu memimpin rakyat melawan Belanda. Belanda kalah,benteng berhasil
                   direbut, Resident mati.
                -  Di Harulu Maluku gagal merebut benteng Zeelandia. 
                -  Belanda berhasil merebut Duurstede.
                -  Pattimura, Thomas Pattiwael,Anthony Rhebok,Raja Now ditangkap. Perlawanan 
                   melemah. Tanggal 16 Desember 1817 Pattimura digantung.

* Perlawanan Padri
 * Faktor Umum     : Perpecahan kaum adat dan kaum Padri
 * Faktor pemicu    : Belanda membantu kaum adat menindas Kaum Padri
 * Akibat:
          Belanda    +Menambah daerah kekuasaan
                     - Keuangan Belanda parah
          
   Indonesia  +Tak ada
                     -Rakyat menderita

* Golongan masyarakat di Minangkabau :
        Kaum Padri            : Taat agama
        Kaum Adat             : Mempertahankan hukum adat

* Terjadi perang antara kaum Padri [Datuk Bandaro] dan Kaum Adat [Datuk Sati]
* Datuk Bandaro diganti Tuanku Imam Bonjol.
* Bonjol menjadi pusat perjuangan kaum Padri
* Belanda memihak kaum Adat
* Benteng Belanda: Van de Cock dan Van der Capellen di Batusangkar
* Tuanku nan Renceh berjuang di Baso
* Di Bonio dan Agam, Belanda gagal menghancurkan Padri
* Residen Du Pay mengajak berunding, tapi ditolak oleh kaum Padri di kota Lawas. 
  Sehingga perang pecah, namun sempat terhenti karena ada  perang Diponegoro.
* Sento Alibasa membantu kaum Padri. Namun ia ditangkap Belanda dan pasukannya dibubarkan.
* Imam Bonjol akhirnya ditangkap, dibuangke Cianjur, Ambon, dan Minangkabau, ia wafat di sana 
  sebagai tawanan.

* Perlawanan Diponegoro

* Sebab umum:    1. Mataram diperkecil wilayahnya karena campur tangan Belanda.
                 2. Penderitaan rakyat dijadikan alasan untuk berbagai pajak
                 3. Bangsawan dilarang menyewakan tanah
                 4. Tokoh ulama dimasukkan dalam peradaban barat di Keraton
                 5. Belanda ikut campur dalam urusan pemerintah
                 6. Penduduk---kerja rodi
                 7. Raja-raja dianggap pegawai pemerintahan Kolonial  
        khusus:  Makam nenek Diponegoro dijadikan jalan [Tegalrejo]
        pemicu:  Rumah Diponegoro ditembak

* Akibat : 

          Indonesia - Rakyat menderita
          Belanda   + Daerah kekuasaan bertambah

* Keistimewaan Perang Diponegoro:

                1. Benteng Stelsel
                2. Siasat gerilya
                3. Van der Capellen melarang usaha perkebunan swasta di kalangan Istana

* Karena makam nenek Diponegoro akan dibuat jalan, P. Diponegoro marah dan mencabut pasak-pasak 
  itu
* Belanda mengajaknya bergabung dengan keresidenan, Diponegoro menolak dan rumahnya 
  ditembaki oleh Belanda
* Gua Selarong adalah pusat persembunyian Diponegoro dan pasukannya
* Ia didukung oleh Kiai Maja dan Sentot Alibasa Prawirodirjo
* Sistem benteng [benteng stelsel] milik Belanda berhasil melemahkan pasukan Diponegoro
* Kiai Maja mau diajak berunding oleh Belanda. Perundingan gagal, ia dibuang ke Minahasa
* Sentot Alibasa Prawirodirjo juga mau berunding. Mereka sepakat, Sentot menyerah tetapi 
  masih boleh memimpin pasukan. Akhirnya Sentot ditangkap dan dibuang ke Cianjur dan 
  meninggal di Bengkulu, ia dituduh membantu pasukan Padri.
* P. Mangkubumi menyerah, karena anaknya, P. Dipokusumo dan patihnya menyerah.
* P. Diponegoro akhirnya mau diajak berunding di Magelang tetapi ia ditipu dan dibuang ke 
  Menado, ia meninggal di Makassar. Perundingan itu gagal saat perebutan Mataram.
 

* Perlawanan Aceh

* Dalam traktat London, Inggris dan Belanda mengakui kedaulatan Aceh
* Dalam traktat Sumatra, Belanda boleh menaklukkan Sumatra temasuk Aceh
* Aceh meminta bantuan ke Turki, kedutaan Italia, dan Amerika di Singapura
* Belanda menyerang Aceh, karena Aceh meminta bantuan, pasukan Belanda dapat dipukul mundur 
  dan Kohler tewas  
* Belanda menyerang lagi di bawah pimpinan Mayor Jendral Van Suiten, merebut Mesjid Raya dan 
  istana. Sultan Mahmudsyah menyingkirr ke Luengbata
* Mahmudsyah meninggal, diganti Muhammad Daudsyah
* Rakyat melawan di bawag pimpinan Teuku Ibrahim, Teuku Cik Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien,
  Panglima Polim
* Taktik Belanda:

                a. Konsentrasi Stelsel:         Menempatkan pasukan Belanda di benteng-benteng 
             Belanda.

                b. Taktik adu domba:           Taktik ini gagal karena Teuku Umar memihak 
                                               Belanda hanya untuk mencari senjata, lalu 
            berbalik melawan Belanda

                c. Mengadu ulama dengan para bangsawan:  Belanda menyuruh Dr. Snouck Hurgronje 
        untuk  menyelidiki budaya Aceh. 
               Bukunya: de Acehers. 
        Ia menganjurkan agar ulama diadu domba
                                                         dengan bangsawan.

 

* Bangsawan yang mau bekerjasama diterapkan dalam birokrasi Belanda. Hal ini 
  diterapkan oleh Jend. Van Heutsz [yang membentuk Korps Marsose]
* Teuku Umar gugur di Meulaboh
* Panglima Polim menyerah
* Sultan Muhammad Daudsyah menyerah
* Teuku Cik Ditiro meninggal
* Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang dan meninggal di sana.

*Perlawanan Bali

* Di Bali ada kerajaan Klungking, Karangasem, Buleleng, Badung.
* Buleleng-->adat tawan karang:     
                               semua kapal yang terdampar di perairan Buleleng menjadi milik
                               Buleleng.
* Belanda mengancam, lalu menyusun kekuatan militer di Karangasem
* Terjadi perang, Belanda menang
* Raja Buleleng dipaksa menandatangani perjanjian:
                a. Benteng Buleleng dibongkar

                b. Belanda ditempatkan di Buleleng

                c. Biaya perang ditanggung raja
* Setelah pasukan induk Belanda dipulangkan ke Jawa, kerajaan Karangasem, Buleleng, 
  Klungkung, Badung, Menguni menyerbu pos-pos Belanda dan merebut senjata api.
* Belanda menuntut agar I Gusti ktut Jelantik diserahkan ke Belanda.
* Mayor Jendral AV. Michiels, memimpin pasukan ke pantai Bali dan menyerang langsung Jagaraga
* Bali mengadakan perang puputan tapi kalah.


*Gerakan Protes Petani

* Sebab: rakyat menderita
* Pusat pergerakan: pesantren
* Peristiwa pemberontakan petani: Banten Utara[1888], Sidoarjo[1903], Kediri[1910], Jambi[1916],
  Pasar Rebo [Jakarta] [1916], Cimareme [Bogor] [1918], Toli-Toli [Sulawesi Tengah] [1920]
* Rakyat mempercayai adanya Ratu Adil.
* Di Jawa ada kepercayaan Jayabaya [Ramalan Jayabaya].


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar